Sabtu, 12 Maret 2016

Review: Critical Eleven

Judul    : Critical Eleven
Author   : Ika Natassa
Tebal    : 344 halaman
Bahasa   : Indonesia
Genre    : Contemporary Romance, Adult
ISBN     :9786020318929
Format   : Paperback
Penerbit :Published August 10th 2015 by PT Gramedia Pustaka Utama

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


Anya dan Ale ketemu di pesawat. Saat mereka sama-sama landing di Sydney. Selama 3 jam penerbangan awal, Anya ketiduran di bahu Ale. Lalu, mereka mulai membahas tentang enaknya bisa tidur dimana saja, membahas Jakarta dan bagaimana Ale sangat mencintai Jakarta... yang macetnya masya' Allah. Pembahasan mereka pun berlanjut dari tukeran nomor hape, masing-masing. Yah.. klise memang. Pertemuan yang mengawali bagaimana Ale menginginkan Anya untuknya.
“Jakarta itu labyrith of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, Kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It’s the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?” (p:11)
Mereka berdua akhirnya menikah. Hubungan romantisme mereka selalu bikin envy orang disekitarnya. Anya beruntung memiliki Ale yang sangat memujanya, barista pribadinya, orang yang selalu ada untuk Anya, kebo nya Anya dan seorang superhero untuk dirinya. Sedang, Ale beruntung bagaimana Anya ada dikehidupannya. Hidupnya tidak akan sehampa di rig , menjadi tukang minyak yang berusaha membuat sang istri mengandakan dirinya. Bagi Ale, Anya adalah hidupnya.
"Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu." (p:34)
Sayangnya, pernikahan mereka yang menginjak umur 5 tahun dan sepeninggal Aidan, kehidupan rumah tangga mereka terasa dingin. Tidak ada kehangatan akan rasa rumah yang sebenarnya. Ale tahu dirinya salah dan berusaha memperbaikinya. Anya lah yang membangun tembok antara dirinya dan Ale setinggi mungkin. Mencegah Ale datang memanjat dengan mudah. Anya masih belum siap untuk memaafkan Ale. 
"Beginilah perempuan, dengan pendidikan secanggih apa pun, jabatan setinggi apa pun, deretan prestasi di resume sehebat apa pun, tetap bisa terpuruk jadi orang paling bodoh dan paling lemah sedunia hanya karena urusan hati" (p;170)
Tapi, kesempatan untuk memulai kehidupan pernikahan mereka yang bahagia itu masih ada. Dan Anya tahu, itu harus dimulai bagaimana memulainya. Semuanya tergantung Anya bagaimana ia bisa memaafkan Ale atas ucapan yang menyalahkan dirinya itu.
"Gue nggak bisa membayangkan seberapa sakit yang lo rasakan karena kata-kata Ale dulu, pasti sakit banget, Nya. Gue juga mungkin bereaksi sama dengan lo kalau itu kejadian di gue. Tapi kalau belakangan ini Ale mulai berubah, sesedikit apa pun, mungkin ada sebabnya, Nya. Mungkin ini pertanda sudah saatnya lo biarkan menebus kesalahannya selama ini dengan memberi dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya." (p:252)

Setelah membaca Divortiare yang membahas antara Beno dan Lexy. Kini, Ika membahas cerita Anya dan Ale yang saling mengenal di pesawat dengan pekerjaan yang membuat keduanya jarang banget bisa bertemu. Nah.. kerjannya si Ale ini malah ngingetin aku ke adikku yang bakalan jadi Petroleum Enginer, dua tahun lagi. Duh, nggak bayangin deh gimana jauh dan susahnya ketemu sama nih bocah entar. Dan malah inget janjinya dia yang bakalan beliin aku buku apapun yang aku mau, kalau dia udah dapet kerja. Duh, Le (panggilan sayang ke adik cowok) *mewek* *tiba-tiba kangen sama dia yang lagi sekolah di Indramayu* Oke, balik ke cerita

Hubungan mereka itu sweet banget memang. Hampir se sweet hubungan antara Lexy dan Beno di Divortiare dan Twivortiare. Dari 2 novel ituah aku mulai menyukai bukunya Ika Natassa. Suka banget bagaimana si Ika ini membuat plot yang mengajak pembacanya ikutan larut dalam cerita. Pertemua awal para tokoh emang terkesan klise dan bagiku itu hal yang biasa banget. Nggak ada yang WOW gitu lah. Tapi, aku kalem kok kalau udah dapet alur yang bikin aku ketawa dan ikutan sedih. 

Tadi aku udah bilang kalau aku menyukai para tokohnya (saat mereka menceritakan hal-hal bahagia dalam pernikahan mereka). Nah pas kena bagian klimaks nya.. duh, pengen banget nabok si Anya dan Ale. Aku nggak dukung salah satu dari mereka. Sama-sama salah dan sama-sama butuh pelampiasan juga. Sukaku, karakter mereka itu kuat. 

Alurnya menurutku loncat-loncat mulu. Kadang aku masih load untuk bisa nangkep ini maksutnya yang mana. Cuman kalau pas baca dilanjutin dan dibuat enjoy.. kalian akan kalem sama kayak aku kok. Kalem dan menunggu bagaimana mereka memecahkan masalah.

Bagian favoriteku pas baca buku ini dalah bagian emosinya. Serius.. aku ikutan mewek kalau udah pada bahas Aidan dan Aidan. Lalu drama nya Anya yang kayak dunia udah kiamat itu. Aku ikutan sedih juga pas Aidan pergi. Ikutan jantungan juga saat Anya tiba-tiba menghilang di hari ulang tahun Ale. Dan merasa beban sedikit keangkat pas Anya nangis di makam sama si Ale. Lalu, pengen misoh-misoh pas tau ending nya cuman kayak gitu doang. Maksutku gini, rasanya unfair banget aku dibuat emosional sama buku ini dan mendapati ending yang cuman kita kudu menebak. Sekalian aja dikasih tau gimana reaksi Ale gitu lah. Biar plong juga aku nya. Kan sini ikutan emosional juga, Nya. 

Yasudahlah.. karena dapet ending yang menohok hati itulah.. langsung tak kurangi bintang nya. 



2 komentar:

  1. liat covernya saya kira novel sci-fi, eh ternyata Ika Natassa penulisnya, pasti romance.
    Saya baru membaca Divortare.
    http://willy-akhdes/blogspot.com

    BalasHapus
  2. Dapatkan penghasilan tambahan dari website atau blog Anda dengan bergabung dengan Pemasaran Afiliasi dari salah satu toko buku online Indonesia.
    Dengan mereferensikan pengunjung website/blog Anda ke Belbuk.com melalui klik pada link afiliasi, dan apabila pengunjung tersebut berbelanja buku di website kami, maka Anda akan mendapatkan komisi penjualan sebesar 5% dari dari total pembelian. Tidak hanya itu, anda akan mendapatkan komisi secara terus-menerus dalam setiap pembelanjaannya, selama pelanggan tersebut mengakses dari komputer yang menyimpan cookie yang telah mengandung kode afiliasi Anda.

    Bergabung sekarang juga: http://www.belbuk.com/afiliasi

    Terimakasih.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...